Rabu, 25 November 2009

PSIKOLOGI

MOTIVASI BERAGAMA

I. PENDAHULUAN
Dalam menjalani kehidupan manusia tentunya banyak tersandung problem-problem yang dihadapinya baik dari segi psikologi ataupun dari segi psikis. Oleh karena itu, adalah benar bahwa agama dapat menenangkan keluh dan derita spiritual manusia. Iman kepada Tuhan dapat melepaskan manusia dari kesendirian tatkala harus kehilangan orang-orang terkasih, sahabat tercinta dan orang-orang besar yang dibanggakan. Iman kepada Tuhan dapat memenuhi segala sesuatu yang lepas dari tangannya dan mengisi kekosongan akibat kehilangan yang dideritanya.
Motivasi utama orang beragama yang tampak paling logis adalah semakin manusia mengamati sistem semesta, semakin ia mengenal kedalaman, kerumitan dan keagungan semesta ini. Ia sekali-kali tidak akan menerima begitu saja akan munculnya sekuntum bunga dengan segala elegansinya, keajaiban strukturnya, atau matahari dengan seluruh sistem sedemikian agung dan kompleksnya, yang lahir dari rahim semesta yang tak berakal dan pelbagai benturan. Dan berangkat dari sini, manusia bergerak kepada Sumber Awal sistem jagad ini, yakni Tuhan. Dari Tuhan manusia meyakini sebuah agama sebagai penuntun hidup dan norma yang harus ditaatinya.

II. PERMASALAHAN
Dari uraian pemaparan di atas, penulis tertarik untuk membahas beberapa permasalahan yang cukup viatal pada makalah ini, yaitu sebagai berikut :
1. Apa pengertian motivasi beragama ?
2. Motif apa saja yang mendorong orang beragama?
3. Mengapa orang beragama ?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Motivasi Beragama
Menurut M. Utsman Najati, motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkan menuju tujuan tertentu.(Abdurrahman Saleh dan Muhib Abul Wahab : 132) Sedangkan menurut Mc. Donald motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. (Sardiman AM : 72)
Adapun yang dimaksud dengan motivasi beragama adalah akumulasi daya dan kekuatan yang ada pada diri seseorang untuk mendorong, merangsang, menggerakkan, membangkitkan, dan memberi harapan dalam melaksanakan seperangkat aturan dan hukum-hukum normatif yang mengatur dan menata kehidupan manusia dalam rangka mentaati aturan Tuhan.
1. Macam-macam Motivasi
Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya meliputi motif-motif bawaan atau biologis seperti makan, minum, dan bekerja, serta motif-motif yang timbul karena dipelajari seperti dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan dan dorongan untuk mengejar sesuatu di dalam masyarakat. (Sardiman AM : 84).
Sedangkan menurut Abraham Maslow motivasi hidup manusia tergantung pada kebutuhan-kebutuhanya yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yakni kebutuhan taraf dasar (basic needs) yang meliputi kebutuhan fisik, rasa aman dan terjamin, cinta dan ikut memiliki (sosial), dan harga diri; serta metakebutuhan-metakebutuhan (meta needs) meliputi apa saja yang terkandung dalam aktualisasi diri seperti keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatuan, dan sebagainya. Pemenuhan kebutuhan yang dapat mengakibatkan kepuasan hidup adalah pemenuhan mete-kebutuhan sebab pemenuhan kebutuhan ini untuk pertumbuhan ynag timbulnya dari luar diri (eksternal). Sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar hanya diakibatkan kekurangan yang bersal dari dalam diri (internal). (Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir : 245 - 246).
Selain dari tokoh di atas, beberapa psikolog ada yang membagi motivasi menjadi dua, yaitu :
a. Motivasi intrinsik, ialah motivasi yang berasal dari diri seseorang itu sendiri tanpa dirangsang dari luar.
b. Motivasi ektrinsik, ialah motivasi yang datang karena adanya perangsangan dari luar. (Abdurrahman Saleh dan Muhib Abul Wahab : 139 -140)
B. Motif Orang Beragama
Pada diri manusia terdapat keinginan serta kebutuhan yang bersifat universal. Keinginan dan kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan kodrati, berupa keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan. Untuk memenuhi kebutuhan yang demikian, maka seseorang akan beragama dan melaksanakan ajaran yang diyakini kebenarannya tersebut.
Menurut Nico Syukur Dister Ofm, motifasi beragama dibagi menjadi empat motivasi, yaitu:
1. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada dalam kehidupan, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam, frustasi sosial, frustasi moral maupun frustasi karena kematian.
2. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat.
3. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia.
4. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan.
Dalam Al-qur’an ditemukan beberapa statemen yang menunjukkan dorongan-dorongan yang mempengaruhi manusia baik berbentuk instingtif (naluriah) maupun dorongan terhadap hal-hal yang memberikan kenikmatan. Dorongan instingtif berdasar pada kenyataan bahwa manusia mempunyai motif bawaan (fitrah) yang menjadi pendorong untuk melakukan berbagai macam bentuk perbuatan tanpa disertai dengan peran akal, sehingga terkadang manusia tanpa disadari bersikap dan bertingkah laku untuk menuju pemenuhan fitrahnya. Sedangkan dorongan terhadap hal-hal yang memberikan kenikmatan adlah seperti kecintaan terhadap dunia dan syahwat (perempuan, anak, dan harta kekayaan).(Abdurrahman Saleh dan Muhib Abul Wahab : 141-142) Dorongan naluriah tersebut diatas bisa dikatakan sebagai motivasi intrinsic, sedangkan dorongan yang berorientasi pada kenikmatan ragawi adalah motivasi ekstrinsik.

C. Mengapa Orang Beragama
Menurut A. Kamil, alasan-alasan mengapa manusia berhajat dan memerlukan agama adalah :
1. Agama menjawab sense of religion
Menyingkap perasaan keberagamaan pada diri manusia, dan pengakuan terhadap perasaan ini merupakan salah satu unsur yang tetap dan natural pada jiwa manusia. Karena dalam diri manusia terdapat empat naluri . Keempat naluri tersebut adalah:
a. Naluri Kognitif atau Kuriositas, yang mengkondisikan manusia semenjak awal penciptaan untuk mencari dan menelusuri masalah-masalah yang kabur dan buram tentang siapa yang menciptakan alam semesta ini. Dan perasaan atau naluri ini yang memotivasi para penemu dan inventor untuk menyingkap tirai yang menyelimuti alam semesta.
b. Naluri Etis, yang menumbuhkan etika dan sifat-sifat utama dan transendental pada jiwa manusia.
c. Naluri Estetis, yang memunculkan seni dan menjadi sebab berseminya berbagai cita rasa kesenian.
d. Naluri Religiusitas adalah naluri atau perasaan yang dirasakan oleh setiap orang pada awal-awal masa baligh dan sebuah jenis kecenderungan terhadap alam metafisika.
2. Agama Menjawab Kuriositas
Setiap insan menemukan tiga pertanyaan asasi dalam dirinya ihwal: Aku berasal dari mana ? Untuk keperluan apa ? Akan kemanakah aku melangkah ?
Seorang Materialis akan terperangah dan tertunduk dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan ontologis semacam ini, namun agama dengan lantang dan kencang dapat memberikan jawaban atas tiga pertanyaan tersebut. Agama menjawab bahwa manusia dan alam semesta merupakan makhluk Tuhan Yang Mahakuasa dan Dialah sebagai sumber keberadaan manusia dan semesta. Tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengenal dan mentaati serta sampai kepada kesempurnaan diri dimana hasil dari semua itu dapat dituai pada kehidupan selanjutnya. Kematian dalam perspektif agama merupakan terminal bagi kehidupan yang lain dan ia tidak memandangnya sebagai akhir dari kehidupan.
3. Agama Menjawab Perkara Psikologis
Para psikolog di samping membahas masalah fenomena-fenomena yang tak terhitung yang berlaku di dunia ini mereka juga mengurai tentang dimensi kejiwaan manusia. Mereka dalam hal ini berkata, kembalinya manusia kepada agama memiliki efek-efek yang dapat memecahkan pelbagai persoalan yang mendera kehidupan manusia, antara lain:
a. Menciptakan pemahaman dan sikap optimisme di antara manusia.
b. Mengkompensasi segala derita dan nestapa yang dialami manusia.
4. Agama Mengatur Urusan Sosial
Manusia secara natural adalah makhluk sosial (zoon politician). Manusia menghendaki adanya interaksi sosial di antara sesama jenisnya sehingga ia dapat memecahkan berbagai problematika yang dihadapinya secara gotong-royong dan saling membantu satu sama lain, serta agar dapat menghalau berbagai rintangan dan halangan yang merintangi jalannya untuk sampai kepada kesempurnaan. Dari sini, agama memainkan peran untuk mengatur dan menata relasi dan hubungan yang ada dan seharusnya ada di antara sesama manusia. Yaitu, antara lain:
Pertama, menjelaskan batasan dan tugas masing-masing individu dalam interaksi sosialnya. Karena betapapun seorang individu adalah seorang adil dan tahu akan tugasnya namun apabila rule of game tidak ditentukan maka ia tidak akan dapat menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.
Kedua, dengan mengimplementasikan serangkaian program kerja yang bermanfaat dan menjelaskan punish terhadap sikap egosentrik dan tidak tahu batasan setiap individu.
Dengan peran sentral agama ini, jaminan untuk terciptanya tatanan masyarakat yang saling menghargai dan tolong menolong dalam rangka mencapai kesempurnaan maknawi dan mengaktualkan potensi kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap individu dalam masyarakat dapat dicapai.
IV. KESIMPULAN
Dengan menjawab asumsi-asumsi dan hipotesa atas keberagamaan manusia maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat tidak beragama dalam kehidupannya. Agama yang akan mengantarkannya mencapai kesempurnaan maknawi dan duniawi berkat aturan dan rule of game yang tegas dijelaskan dalam setiap ajaran agama. Melalui agama pertanyaan-pertanyaan ontologis yang menyangkut persoalan-persoalan eksistensial dapat terjawab dengan tuntas dan komprehensif dimana orang-orang yang kontra dengan keberadaan agama dan mencoba memberangus rasa keberagamaan itu dengan menyajikan industri dan sains. Namun manusia karena dalam dirinya mengandung dua dimensi, ragawi dan maknawi, kebutuhan dan dahaga maknawinya tidak akan dapat pernah dapat terpenuhi selain dengan perantara sesuatu yang trasendental.
V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, tentunya jauh dari kata kesempuranaan karena kesempurnaan adalah milik Allah. Khilaf dan salah adalah milik insan yang lemah ini. Dari itu maka pemakalah mengharap saran dan kritik yang membangun demi perbaikan makalah yang akan datang. Dan akhirnya ucapan terimakasih atas partisipasinya dan semoga bermanfat bagi penulis khususnya bagi pembaca pada umumnya. Amin………
VI. REFERENCE
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.
Abdurrahman Saleh dan Muhib Abul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Prenatal Media, Jakarta, 2004.
Copyright @ indoskripsi.com launched at November 2007. Website hosting by IdeBagus.
Sardiman AM, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar,PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hlm. 72.
.[www.wisdoms4all.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar