Rabu, 25 November 2009

FITRAH MENGENAL ALLAH

I. AYAT-AYAT YANG TERKAIT
A. Surat Ar-Rum 22-25 dan 30


22. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui
23. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
24. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
B. Surat Al-Hasyr ayat 22-24




22. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
23. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
24. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
C. Surat Al-Baqoroh ayat 163 dan 225


163. Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar




II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Fitrah
Fitrah menurut arti bahasa adalah dalam bahasa Arab dari bentuk fi’lah yang menunjukkan pada masdar yang menunjukkan arti keadaan atau jenis perbuatan.

ﻔﻄﺭﺓ ﷲ ﺍﻠﺘﻰ ﻔﻄﺭﺍﻟﻧﺎﺲ ﻋﻠﻴﻬﺎ
Artinya : (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (Qs. Arrum : 30)
Fitrah menurut istilah adalah potensi dasar yang dimiliki manusia untuk mengetahui dan mengesahkannya/ tidak ada Tuhan menlainkan Allah dan Allah mengambil kesaksian atas mereka sendiri.
Fitrah adalah agama yang lurus yakni Islam/ tauhid yang murni. Menurut kitab Shahih Al-Bukhori (Hadits dari Rasulullah SAW) setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tualah yang menjadikan Yahudi, Nasroni, dan Majusi.
Manusia diciptakan di dunia tidak lain untuk beribadah dengan proses kejadian manusia yang diterangkan dalam Qs. Al-‘Araf ayat 172 yang mangatakan bahwa Allah telah menciptakan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Allah telah bertanya kepada mereka tentang ketuhanan dan mereka menjawab Tiada Tuhan Selain Allah.
Dari makna di atas bahwa kita sebagai manusia ciptaan Allah dulu telah bersaksi mengakui bahwa Tuhan kita adalah Allah yang menciptakan alam seisinya. Sebagai manusia kita harus bertaqwa dan menjalankan segala perintahnya dengan sungguh-sungguh.
Kita diciptakan tidak lain untuk beribadah. Dengan menganut ajarannya yaitu agama yang paling benar disisi Allah dan agama Islam yang dimana terdapat ajaran dengan mengesahkan Allah dengan agama tersebut. Kita dapat mengaplikasikan dan mengembangkan potensi keimanan/ fitrah tersebut.
Ditegaskan pada surat Ar-Rumm ayat 30 : Maka kita sebagai ciptaan Allah senantiasa menghadapkan wajah kita dan lurus kepada fitrah Allah tidak lain itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Hakekat fitrah yang diungkap dalam kandungan Qs. Al-‘Araf ayat 172 dan Qs. Arrum ayat 30 adalah bahwa kata fitrah dapat diartikan sebagai potensi yang mengarah pada Imam Billah, Abdurrohman Saleh Abdullah mangatakan manusia menerima Islam itu adalah sama jalan dengan jalan ditempuh seorang anak kecil yang menerima dan mengakui ibunya.
Potensi keislaman yang diberikan sejak lahir ini mempunyai cabang (baik dan buruk) guna mencapai keberhasilan. Menurut pandangan agama manusia seutuhnya adalah mampu menempatkan manusia yaitu pemenuhan fitrah sebagai insan yang berketuhanan. Hal ini erat kaitannya dengan usaha campur tangan “pendidikan dalam rangka mengarahkan manusia sejak dini untuk senantiasa berada dalam jalur potensi yang mengarah pada kebenaran”.
B. Allah Mengenalkan Diri-Nya
1. Mengetahui Nama (sifat) Allah
Berdasarkan hadits Rasulullah SAW bahwa “Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa yang menghafalnya, ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Gasal (tidak genap) dan cinta kepada hal yang gasal” (HR. Ibnu Majah)
Menghafal nama-nama Allah yang baik ialah mengingat-Nya, menghadirkan maknanya dalam hati serta merasakan bekasnya dalam jiwa. Imam Tirmidzi menyebutkan 99.
Al-Biqa’i berkomentar tentang kata (ﻫﻮ) huwa pada Qs. Al-Hasr ayat 22 bahwa Dia yang wujud-Nya dari Dzat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh oleh Adam (ketiadaan) dalam bentuk apapun, dan dengan demikian tidak ada wujud yang pantas disifati dengan kata tersebut selain-Nya, karena Dialah yang selalu wujud sejak dahulu hingga kemudian yang tidak terhingga.
Menurut Imam Ghazali, Al-Malik yang merupakan salah satu nama Allah yang Maha Mulia adalah Dia “Yang Dzat dan sifat-Nya tidak membutuhkan segala yang wujud, bahkan segala yang wujud butuh kepada-Nya dalam segala sesuatu dan menyangkut segala sesuatu. Segala sesuatu selain-Nya menjadi milik-Nya.
Dalam penjelasan beberapa kamus bahasa Arab antara lain karya al-Fairuzabadi ditemukan bahwa Quddus adalah Ath-Thahr. Auw Al-Mubarak/ yang suci murni atau yang penuh keberatan.
Agaknya atas dasar inilah ada ulama’ yang mengartikan kata tersebut sebagai yang menghimpun semua makna-makna yang baik atau yang terpuji dengan segala macam kebijakan.
Menurut Imam Al-Ghazali, Allah A-Quddus adalah Dia Yang Maha Suci dari segala sifat yang dapat dijangkau oleh Indra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga oleh waham, atau yang terlintas dalam nurani dan pikiran.
Al-Biqo’ memahami ke-Quddus-an adalah “Kesucian yang tidak menerima perubahan, tidak disentuh oleh kekotoran, dan terus menerus terpuji dengan langgengnya sifat itu”
Ibn al-‘Arabi menyatakan bahwa semua Ulama’ sepakat bahwa nama As-Salam yang didefinisikan kepada Allah berarti Dzu as-Salamah yakni : Pemilik as-Salamah, hanya saja-tulisannya lebih jauh-mereka berbeda dalam memahami istilah ini.
Kata al-Mu’min menurut Az-Zajjaj pakar bahasa Arab, menulis dalam bukunya Tafsir Asma al-Husna beberapa pendapat tentang makna Mu’min sebagai sifat Allah “Allah menemani dirinya Mu’min karena Dia menyaksikan keesaan-Nya, sesuai firman-Nya : Allah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Qs. Al-Imran (3) : 18).
Pendapat lain tentang makna Mu’min yang menjadi sifat Allah itu diemukakan oleh asy-Syanqithi. Menurutnya al-Mu’min dapat dipahami sebagai bermakna pembenaran Allah akan keimanan hamba-hamba-Nya yang beriman dan ini mengantar kepada diterimanya Iman mereka serta tercurahnya ganjaran kepada mereka.
Menurut Imam al-Ghazali, Mu’min adalah yang kepadanya dikembalikan rasa aman dan keamanan melalui anugerah tentang masalah-masalah perolehan rasa aman dan keamanan itu serta dengan menutup segala jalan yang menimbulkan rasa takut.
Imam Ghazali berpedapat bahwa kata al-Muhaimin yang menjadi salah satu Asma’ al Husna itu bermaka Allah menangani serta mengawasi urusan makhluknya dari sisi amal perbuatan mereka rezeki dan ajal mereka.
Menempatkan kata al-Muhaimin sesudah menurut Thahir Ibn Asyur adalah untuk menampik kesan yang boleh jadi muncul bahwa rasa aman yang diberikan-Nya adalah karena Dia lemah/ takut kepada yang lain.
Allah adalah al-Aziz yakni yang Maha Mengalahkan siapapun yang melawan-Nya dan tidak terkalahkan oleh sipapun. Dia juga yang tidak ada sama-Nya. Serta tidak pula dapat dibendung kekuatannya atau diraih kedudukan-Nya, Dia begitu tinggi sehingga tidak dapat disentuh oleh keburukan dan kehinaan. Dari sini Al-Aziz biasa juga diartikan dengan yang Maha Mulia.
Al-Biqa’i menafsirkan kata jabber dengan yang Maha Tinggi sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya dan tidak terlihat/ terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk diraih dan sisi-Nya, ketundukan dan ketidakterjangkauan yang nampak secara amat jelas.
Ulama’ berpendapat bahwa makna asal dari kata ini adalah keengganan dan ketidaktundukan jadi Allah yang bersifat Mutakabbir mereka pahami dalam arti Dia yang enggan menganiaya hamba-hamba-Nya.
Sementara pakar kebahasaan berpendapat bahwa kata al-mutakabbir berarti Yang Maha Besar, karena menurut mereka huruf ta’ dalam bahasa Arab biasanya jika disisipkan pada kata, maka ia mengandung makna takalluf (kesengajaan membuat-buat) sedang Allah SWT Maha Suci dengan sifat kesengajaan membuat-buat kebesaran.
Imam Ghazali berpendapat bahwa Al-Mutakabbir adalah yang memandang selainnya hina dan rendah, bagai pandangan raja kepada hamba sahayanya bahkan merasa bahwa keagungan dan kebesaran hanya milik-Nya.
Dalam surat Al-Hasyr : 24
Menurut Imam Ghazali menjelaskan tiga hal (ﺍﻟﺧﺎﻠﻖ ﺍﻟﻤﺼﻭﺮ ﺍﻟﺒﺭ) melalui satu ilustrasi, yaitu seperti halnya bangunan, dia membutuhkan seorang yang mengukur apa dan beberapa banyak yang dibutuhkan dari kayu, bata, luas tanah, jumlah bangunan serta panjang dan lebarnya. Ini dilakukan oleh insiyur yang kemudian membuat gambar dari bangunan yang dimaksud. Setelah itu dibutuhkan buruh-buruh bangunan yang mengerjakannya sehingga tercipta bangunan yang diukur tadi. Selanjutnya masih dibutuhkan lagi orang-orang yang memperhalus, memperindah bangunan itu, yang ditangani oleh orang lain yang bukan buruh bangunan itu. Inilah yang biasa terjadi dalam membangun satu bangunan Allah SWT dalam menciptakan sesuatu, melakukan ketiganya, karena itu Dia, adalah al-Khaliq, al-Bari’, dan al-Musawwir
Al-Hakim
Pakar tafsir al-Biqa’i menganalisis bahwa al-Hakim harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia akan tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu/ mengira-ngira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba.
Imam Ghazali memahami kata hakim adalah arti pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama dan wujud yang paling utama-ilmu yang paling utama dan wujud yang paling agung-yakni Allah jika demikian Allah adalah hakim yang seharusnya, karena Dia yang mengetahui ilmu yang paling abdi dan tidak tergambar dibenak makhluk dan ilmu-Nya itu tidak mengalami perubahan.
2. Diantara tanda-tanda Kekuasaan-Nya
a. Penciptaan Langit dan Bumi
Yakni penciptaan langit dalam hal ketinggian, keluasan serta berbagai bentuk makhluk yang terdapat di dalamnya
b. Perbedaan Bahasa
Yakni bahasa manusia baik bahasa Arab, asing maupun bahasa lainnya.
c. Perbedaan Warna Kulit
Yakni tanda-tanda khusus pada setiap manusia. tanda ini berbeda dari tanda yang dimiliki oleh manusia yang lain. Tidak ada manusia yang serupa dengan yang lain yang ada adalah kemiripan tanda, perilaku, bahasa
d. Malam dan Siang
Karakteristik malam yang digunakan untuk beristirahat dan diam, dan menjadikan siang sebagai ajang untuk menyebar berusaha mencari penghidupan, dan berpergian
e. Adanya Kilat
Kadang-kadang untuk takut dengan gelegarnya dan kadang-kadang untuk mengharapkan hujan karenanya
f. Dengan diturunkannya hujan maka bumi menjadi hidup kembali setelah sebelumnya bumi itu kering kerontang dan tandus, setelah turun hujan maka bumipun menjadi sumber dan gembur, dan menumbuhkan pepohonan sehingga, menjadi rimbun
g. Berdirinya langit dan bumi dengan iradat Nya
Yaitu pada saat bumi berganti dengan bumi lain dan orang-orang mati keluar dari kubur dengan keadaan hidup dengan iradat dan seruannya kepada mereka
h. Apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, sekita itu juga untuk keluar (dari bumi)
Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang yang mengetahui yang mendengarkan dan yang mempergunakan akalnya dengan baik.
C. IMPLIKASI PENDIDIKAN
Uraian mengenai keimanan kepada Allah yang memiliki hubungan yang erat dengan pendidikan Islam :
1. Dilihat dari segi kedudukannya, keimanan kepada Allah dengan segala uraian yang berkaitan dengannya selain menjadi materi utama pendidikan Islam, juga dapat menjadi bagi perumusan tujuan pendidikan, dasar penyususunan kurikulum aspek-aspek pendidikan lainnya. Tujuan pendidikan dalam Islam juga harus berkaitan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
2. Dilihat dari segi fungsinya, keimanan kepada Allah berfungsi mendorong bagi upaya meningkatkan dibidang pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dipahami dari keharusan orang-orang yang beriman agar memperkuat keimanannya dengan dalil-dalil baik yang bersifat (al-Qur’an dan al-Hadits), maupun dalil akli yang dibangun dari argumentasi rasioanal.








III. KESIMPULAN
Dengan demikian jelaslah bahwa keimanan kepada Allah memiliki hubungan subtansial dan fungsional dalam kerangka perumusan konsep pendidikan Islam pada umumnya dan pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban pada umumnya.
IV. PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami sampaikan tentunya ini semua jauh dari kesempurnaan , kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan demi perbaikan makalah agar lebih baik. Dan akhirnya , semoga semua apa yang kitapelajari bisa bermanfaat bagi orang lain dan khususnya bagi diri kita dan terutama bagi perkuliahan psikologi islam supaya kita bisa menambah khasanah ilmu dan menambah pengetahuan, amin.
V. REFERENSI
Abudi Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Lentera Hati, Jakarta, 2002.
Murtadha Muthahari, Fitrah lentera Busritama, Jakarta, 1998.
Ibnu Katsir, Kumudahan dari Allah, Gema Insani, Jakarta, 2000.
Ahmad Bahjat, Mengenal Allah, Pustaka Hidayah, Bandung, 1986.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar